Kau, Kapan Menuai?

Menyadari, bahwa aku tidak bisa terlalu lama sendiri. Tidak bisa terlalu lama terjatuh. Itu menyedihkan. Aku membutuhkan perasaan-perasaan penting untuk bertahan.

Seperti perasaanku padamu saat ini. Meski baru saja aku patah, tapi langsung saja aku menemukanmu. Membuatku terbang kembali. Aku menyukaimu.

Aku butuh ini. Tapi aku takut memulainya lagi. Aku takut menyakiti lagi. Karena aku tahu, ketika aku ingin dekat dengan seseorang, aku akan menjauhinya ketika sudah ku miliki.

Kamu muncul, tepat saat hatiku kembali patah. Kamu datang, tepat saat aku membutuhkan.

Nantinya, aku akan menjadi rumah untuk tempatmu tinggal, atau hanya sekedar tempatmu singgah? Kita sudah membicarakan ini, memang. Tentang kemungkinan-kemungkinan yang ada di masa depan: aku, kamu, dan kita.

Atau aku harus memaksamu minum ramuan cintaku juga? Sekeping sayang, sebongkah rindu dan sejumput cemburu. Tapi aku tidak ingin nantinya kau sulit melepaskan jika sudah waktuku pergi.

Ah, aku ingin. Tapi disaat yang sama pun tidak.

Kau memaksaku berharap. Tidak, tidak. Kau pasti tanpa sengaja menebarkan bibit harapan itu di bumi hatiku. Langit cerah di bumi yang gersang. Menumbuhkan tidak sekedar harapan disana. Kau, kapan menuai?

Β·Β·

Aku lupa kapan.

Sepertinya 2014

Advertisements

21 thoughts on “Kau, Kapan Menuai?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s