Aku Makin Lelah

Membiarkan orang lain tenggelam dalam kesalah-pahaman miliknya sendiri, dan membuatnya mengira apa-apa yang dia pikirkan adalah benar, dosa nggak ya?

Sedangkan aku sudah terlanjur malas menjelaskan segala sesuatunya, yang pada akhirnya dia tampik dengan egois tanpa mau belajar memahami apa yang sedang terjadi dan kenapa bisa begini.

Semacam ada yang perlu ditenangkan, tapi ini bukan perkara penting. Tapi aku pun sebal melihat dia (mungkin) berbaik-baik saja tanpa berpikir ada kekeliruan yang dia pahami selama ini. Baginya, aku tidak logis. Bagiku, dia begitu egois. Bagi temanku, sudahi saja urusan dengan manusia semacam ini.

Karena dia tidak akan pernah mau memahami permasalahan dari sudut yang lain. Dan akan terus merasa benar sekalipun kau berbusa menjelaskan dimana kelirunya. Iya, dan sungguh, aku lelah.

Aku tidak pernah mengatakan benci sesuatu, apapun itu.

Tapi sepertinya, aku membenci orang-orang yang berasumsi macam-macam; tentangku, tentang sekitarku, apa yang aku rasa, apa yang aku lihat, apa yang ada di pandanganku. Seolah mereka paling tahu dan paling paham. Padahal, tahu untuk mengerti saja tidak.

Memberikan pemikiran-pemikiran mereka yang ketika aku memberi pemikiranku, malah dianggap keliru dan mendebat. Seolah mereka yang mengalah padahal aku yang terlanjur malas dengan manusia macam ini.

Ketika diberi pemahaman dari sudutku, mereka menampik. Menurutnya, apa yang mereka lihat dan mereka rasakan adalah benar. Dan aku dilarang mendebat, dilarang memberi penjelasan. Tapi aku juga dilarang salah paham. Yang penting mereka sudah menjelaskan.

Heran. Ini hidup yang menjalani siapa sih?

Dan ini, alasan yang mendorong tanpa sadar, bikin aku suka menulis. Karena ketika aku berbicara, mereka tidak akan pernah mau belajar mendengar.

Aku terlatih menjadi pendengar yang baik, karena aku dikelilingi oleh orang-orang yang enggan mendengar. Ketika aku memberi tahu isi pemikiranku, mereka kesal dan mengira aku mendebat. Padahal, dalam hidup ada istilah dengan nama “bertukar pikir”. Padahal, mereka saja belum mendengarku bicara hingga selesai.

Aku berhenti menjelaskan, karena asumsi-asumsi mereka yang mematahkan. Aku berhenti bicara, karena aku lelah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s